Suatu ketika saat aku masih duduk di kelas 2 SMA, aku pergi ke rumah teman untuk mengerjakan tugas kelompok. Rumahnya cukup jauh dari rumahku, sampai harus 3 kali naik angkot bila aku ingin pulang ke rumah. Di sana, aku dan 3 orang temanku mengerjakan tugas hingga pukul 5 sore. Untungnya tugas tersebut dapat selesai sebelum magrib. Kalau sudah magrib, agak susah mencari angkot yang kosong dikarenakan biasanya penuh oleh orang yang pulang kerja. Aku pun pulang bersama seorang teman yang kebetulan satu jurusan.

Di angkot, dia baru menyadari kalau uangnya tinggal dua ribu rupiah saja. Padahal sebelumnya di sakunya masih tersisa sepuluh ribu rupiah. Mungkin ia tidak sengaja menjatuhkan uangnya di tengah jalan. Uang dua ribu tersebut tidak akan cukup membiayainya hingga sampai ke rumah. Ia pun meminjam uang kepadaku untuk pulang. Daripada meminjamkan, lebih baik kuberikan saja tanpa harus dikembalikan. Jadilah, hari itu aku membayari ongkos transportasinya sampai ke rumah.

Beberapa minggu kemudian, aku diajak oleh beberapa temanku untuk pergi ke bioskop. Ketika di rumah, kuhitung-hitung uang ku akan cukup untuk menonton dan makan hingga pulang. Tapi, ketika sampai di bioskop, aku baru sadar kalau hari itu adalah hari minggu dan harga tiket pun otomatis menjadi lebih mahal dari hari-hari biasa. Apalagi film yang akan ditonton adalah film tiga dimensi yang membuat harga tiketnya semakin mahal saja. Sebenarnya uangku cukup saat itu, tapi resikonya aku terpaksa tidak makan siang hai itu. Kalau tidak, aku tidak punya ongkos untuk pulang.

Untungnya, temanku yang dulu kubayari pulang membayariku tiket film tersebut. Katanya sekalian bayar hutang dan bunganya. Jujur saja, bahkan aku sempat lupa kalau ia pernah kubayari pulang. Sampai di rumah aku jadi teringat oleh ucapan orang tuaku, jangan pelit dalam memberikan bantuan, kelak orang yang kita bantu akan membatu kita dikemudian hari.

Namanya Agung, dia adalah seorang pelajar SMA di salah satu SMA Negeri di Jakarta. Dia aktif di OSIS dan DKM sekolahnya dan dia merupakan salah satu tokoh berpengaruh di kedua organisasi tersebut. Dari sisi akademis ia termasuk yang biasa-biasa saja, tapi ia mempunyai meneruskan kuliah di perguruan tinggi favorit meski ia sendiri pesimis akan diterima. Untuk mengejar impiannya ia rela pulang larut malam hingga bermalam di tempat bimbelnya. Hari tes gelombang pertama pun tiba. Walaupun ia merasa cukup optimis akan diterima, tapi Tuhan berkata lain. Ia gagal dalam tes gelombang pertama. Oke, masih ada tes gelombang dua pikirnya. Ia pun belajar lagi dengan keras hingga hari yang dinanti tiba juga. Pada tes gelombang kedua ia masih tetap kukuh dengan pilihan universitas dan jurusannya, bahkan ia merasa lebih mantap kali ini akan diterima. Tetapi, Tuhan masih berkata lain. Ia gagal untuk kedua kalinya.

Kesal, sesal, amarah, putus asa, bercampur di dalam pikirannya. Apa Tuhan tidak mentakdirkannya masuk ke universitas tersebut? Paling tidak ia masih bisa mencoba peruntungannya di tes seleksi nasional. Sebelum itu, paling tidak ia harus punya cadangan universitas kalau tidak mau menganggur akibat tidak kuliah. Ia pun mencoba di beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta. Hasilnya ia pun hanya diterima di satu universitas swasta dari beberapa tes masuk yang ia ikuti sebelum tes seleksi nasional. Walaupun universitas swasta tersebut cukup bagus, tapi ia tidak bisa menjangkau biaya kuliahnya kelak, belum lagi ditambah biaya hidup. Ia tidak mau membebani orangtuanya terlalu berat. Akhirnya di lepaslah perguruan swasta tersebut. Setelah itu, ia pun mencoba mendaftar di salah satu sekolah tinggi yang membebaskan biaya pendidikan untuk semua siswanya. Tapi, tesnya merupakan salah satu tes masuk ketat karena banyak peminat dan pengumuman kelulusannya setelah pengumuman tes seleksi nasional. Artinya, apabila ia gagal tes seleksi dan tidak diterima di sekolah tinggi tersebut ia terpaksa menunggu tahun depan untuk mendaftar lagi di perguruan tinggi.

Hasil tes seleksi nasional sudah diumumkan. Dan Tuhan masih menutup jalannya untuk keperguruan tinggi. Ia benar-benar kecewa saat itu, untung saja teman-temannya tetap memberikan semangat dan motivasi agar tidak berputus asa. Tetap saja ia takut kalau harus menunggu tahun depan. Disaat teman-temannya dengan bangga memakai jaket almamater universitas mereka dan berbagi cerita dan pengalaman saat kuliah, ia masih harus berusaha untuk diterima dan sama sekali tidak ada cerita yang bisa dibagi dan dibanggakan. Apa kata adik-adiknya kalau mereka tahu kakak sulungnya harus menganggur karena tidak diterima dimana-mana? Untungnya orang tuanya tetap yakin kalau Tuhan punya rencana tersendiri untuknya.

Tuhan pun menunjukkan kekuasaan-Nya. Ia diterima di sekolah tinggi tersebut dan orang tuanya tak perlu repot-repot mengurusi uang kuliahnya karena disana bebas biaya. Didalam dirinya pun menjadi ada kebanggaan tersendiri karena ia bisa lolos salah satu ujian masuk tersusah. Dari sekolahnya pun hanya delapan orang yang diterima dari beberapa puluh yang ikut mendaftar. Setelah itu, tak lama ia pun diangkat menjadi ketua forum alumni rohis di sekolahnya yang memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat dari tahun ke tahun. Ia pun bersyukur kepada Tuhan karena sesungguhnya dibalik semua kegagalannya, Tuhan memiliki rencana yang indah bagi dirinya.

Halo